Selasa, 15 April 2008

POLITIK TUBUH BUDAYA KAPITALIS

POLITIK TUBUH BUDAYA KAPITALIS: KRITIK TERHADAP YASRAF AMIR PILIANG


Oleh: Heru Susanto


Dalam kajian budaya pop, nama Yasraf Amir Piliang tidak dapat dilepaskan dalam pengkajian budaya tersebut. Beberapa buku telah diterbitkan dengan kajian yang menekankan pada pengaruh budaya kapitalis, seperti Hipersemiotika: Tafsir Cultural Studies atas Matinya Makna, Posrealitas: Realita Kebudayaan dalam Era Posmetafisika, dan Dunia yang Dilipat: Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Budaya kapitalis diuraikan dengan runtut beserta pengaruhnya dalam kultur masa sekarang, dan juga ditekankan pada kultur nasional. Yang menarik dari pemikiran tersebut terletak pada pembahasan mengenai politik tubuh yang dipengaruhi oleh budaya kapitalis.


Yasraf menguraikan bahwa budaya kapitalis saat ini membidik ranah tubuh sebagai lahan penanaman modal yang menghasilkan banyak keuntungan. Produksi-produksi perawatan tubuh mulai dieksploitasi besar-besaran untuk menarik manusia memperhatikan tubuhnya. Dengan diproduksinya produk perawatan tubuh secara besar-besaran, secara tidak langsung manusia mulai larut terhadap keberadaan produk tersebut dan bersaing untuk mengeksploitasi tubuh mereka pula. Saat itu pula, manusia mulai menjadikan tubuh mereka sebagai produk untuk dipertunjukkan. Kondisi pengeksploitasian tubuh oleh budaya kapitalis tersebut membentuk wacana baru mengenai politik tubuh (body politics).


Ketika menguraikan politik tubuh yang dibentuk budaya kapitalis, Yasraf mengacu pada tiga tingkatan, yakni ekonomi politik tubuh (political-economy of the body), politik ekonomi tanda tubuh (political economy of the body signs), dan ekonomi-politik hasrat (political economy of desire). Ekonomi-politik tubuh merupakan penggunaan tubuh oleh kapitalisme sebagai alat untuk membentuk konstruksi sosial atau ideologi kapitalisme. Politik ekonomi tanda tubuh merupakan penggunaan tubuh sebagai tanda-tanda sebagai system pertandaan kapitalisme yang bertujuan membentuk citra, makna, dan identitas. Ekonomi-politik hasrat merupakan pemanfaatan tubuh perempuan sebagai ajang eksploitasi ekonomi.


Ketiga tingkatan politik tubuh yang diajukan oleh Yasraf tersebut tampaknya masih terlalu tergesa-gesa. Ketika menguraikan tiga tingkatan politik tubuh, ia terperangkap pada jaring oposisi biner. Terperangkapnya dalam oposisi biner dapat dicermati ketika memosisikan perempuan sebagai objek (penderita) dan laki-laki sebagai subjek (pelaku) yang diwakili oleh kapitalisme. Ia tampaknya terlalu cepat mengambil putusan untuk memosisikan kapitalisme sebagai patriarki. Ini menunjukkan masih adanya pemikiran yang terpengaruhi wacana global mengenai hegemoni patriarki terhadap kaum perempuan. Pada hal, kapitalisme merupakan sistem yang mengarah pada pengoptimalan modal untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Kalaupun ada unsur-unsur pengeksploitasian perempuan, hal itu tidak serta merta kapitalisme dapat dipersandingkan dengan budaya patriarki.


Dalam Dunia yang Dilipat:Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan hal. 341, Yasraf menyebutkan “apa yang berlangsung adalah semacam ‘ideologisasi’ atau ‘mistifikasi tubuh’, yaitu relasi tubuh secara fisik (misalnya hubungan fisikal atara laki-laki dan perempuan) dilihat sebagai sebuah relasi sosial, yang di dalamnya dibentuk posisi sosial yang berbeda, yaitu antara yang kuasa dan tak kuasa, subjek dan objek, dominan dan yang didominasi”. Pernyataan tersebut semoga tidak terjadi untuk saat ini Memang dalam kenyataannya, perempuan merupakan korban dari kapitalis, tetapi ketika perempuan menjadi manusia tak kuasa, bukan berarti laki-laki yang kuasa. Dalam budaya saat ini, yang kuasa tetap kapitalisme. Pemikiran tentang perempuan merupakan komoditi bagi kapitalisme tampaknya tidak serta-merta memosisikan perempuan sebagai objek, sedangkan laki-laki justru menduduki posisi subjek yang berada dalam sistem kapitalisme. Simpulan seperti ini kurang mengena untuk mengkaji kondisi budaya yang dipengaruhi kapitalisme. Kekuatan kapitalisme memang memiliki potensi untuk memosisikan patriarki di atas perempuan. Akan tetapi, wacana tentang pengeksploitasian tubuh perempuan oleh kapitalisme tidak harus mengacu pada masalalah laki-laki mendominasi perempuan.


Tipisnya Batasan Laki-laki dan Perempuan


Untuk membuktikan kapitalis tidak dapat dipersandingkan dengan patriarki, hal itu perlu dicermati beberapa produk perawatan tubuh yang sering diiklankan di televisi dan berbagai media massa lainya. Jika memang kapitalisme berpihak pada laki-laki, tentunya hanya tubuh perempuanlah yang dieksploitasi sebagai komoditi. Pemikiran Yasraf tampaknya hanya cocok untuk masa lalu yang masih terikat mitos mengenai perempuan harus cantik dengan adanya iklan-iklan yang hanya menyangkut perempuan.


Perlu dicermati, iklan-iklan dalam media massa untuk saat ini tidak hanya terfokus pada perempuan. Kapitalis pun mulai melebarkan sayapnya dengan membidik tubuh laki-laki juga sebagai lahan komoditi. Hal itu bisa ditangkap dalam iklan perawatan tubuh yang juga diperuntukkan laki-laki. Secara tidak langsung, iklan produk, seperti bedak, pewangi tubuh, minyak rambut, sabun mandi, celana dalam, kondom, alat olah raga merupakan alat perayu yang ditujukan kepada laki-laki untuk lebih memperhatikan tubuhnya. Ketika laki-laki berbondong-bondong mengejar produk tersebut, mereka telah terjerat bujuk rayu kapitalis. Mereka telah tenggelam dalam kenikmatan semu. Yang ada hanya kompetisi untuk memperindah tubuh.


Dalam hal ini, mitos perempuan harus tampil cantik, sedangkan laki-laki harus bertubuh kekar dan jantan mulai tergeser dalam paradigma budaya kapitalis untuk saat ini. Tidak hanya perempuan yang harus tampil manis, laki-laki pun harus memperhatikan penampilannya dan bergaya semanis mungkin. Pada budaya yang menipisnya batasan antara maskulin dan feminin muncullah sosok laki-laki metroseksual.


Sebenarnya, tubuh laki-laki pun sekarang juga memiliki tempat untuk dieksploitasi dalam berbagai media massa. Tidak jarang laki-laki juga menjadi bintang kover dalam sebuah majalah dengan memakai celana pendek dan telanjang dada. Iklan di jalan-jalan juga tidak jarang menampilkan tubuh laki-laki yang menunjukkan keseksiannya. Hal itu semuanya merupakan strategi kapitalis untuk memperlancar penjualan produknya hingga meraih keuntungan sebesar-besarnya. Saat itulah manusia mulai terjerat politik tubuh dan menjadi manusia-manusia konsumen. Ketika manusia-manusia konsumen terbentuk, kapitalisme merayakan kemenangannya.


Kondisi ini dapat menjawab pertanyaan benarkan kapitalis memihak patriarki dan menempatkan perempuan sebagai yang tertindas semata?



Kapitalis tidak Berpihak pada Oposisi Biner


Kapitalis tidak seperti apa yang dikatakan Yasraf yang seakan-akan memosisikan kapitalis dengan patriarki sama, dengan politik tubunya yang mengeksploitasian tubuh perempuan. Kapitalis mengarah pada sistem pengembangan modal untuk mengantongi sebanyak-banyaknya keuntungan hingga mempengaruhi budaya yang menjadikan manusia-manusia konsumen. Hal itu jelas berbeda dengan patriarki yang pada dasarnya lebih menekankan pada status keberadaan laki-laki di atas perempuan, walaupun cakupannya juga luas.


Penempatan laki-laki pada posisi menguasai perempuan bila dicermati juga tidak dapat dijadikan pedoman untuk merujuk kapitalisme. Perlu ditegaskan untuk mengkaji politik tubuh dalam budaya kapitalis, tidak harus memosisikan laki-laki sebagai penguasa. Yang menjadi penguasa tetap kapitalis itu sendiri. Hal itu disebabkan kapitalis dapat memosisikan laki-laki sebagai subjek (pelaku), tetapi juga tidak tertutup kemungkinan perempuan juga sebagai subjek (pelaku) untuk menikmati tubuh laki-laki yang dipertontonkan. Hal itu dapat diamati dengan gencarnya produk-produk yang juga ditujukan kepada laki-laki. Yang terpenting bagi kapitalis penguasaan keuntungan sebesar-besarnya.


Pemkiran ini semoga dapat memperluas kajian mengenai budaya pop untuk saat ini. Dari berbagai kajian mengenai budaya pop, khususnya mengenai tubuh, kajian masih berkutat pada kajian tubuh perempuan. Dengan pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sudah waktunya untuk memperluas kajian politik tubuh yang merujuk eksistensi laki-laki pula sebagai bentukan budaya kapitalis.

Baca Selanjutnya

FILOSOFI CINTA:

FILOSOFI CINTA:

APA INI EROS ATAU PHILIA SEMATA?


Oleh: Heru Susanto*


Plato menyatakan ada kekuatan yang luar biasa dalam kodrat manusia. Kodrat manusia dahulu berbentuk bulat, memiliki empat tangan, empat kaki, dua muka, dua alat kelamin, dan satu leher. Makhluk ini memiliki kekuatan yang luar biasa. Dengan kekuatan yang luar biasa tersebut, para dewa dan dewi khawatir dengan keberadaan makhluk itu karena merupakan ancaman bagi keberadaan mereka sebagai pemangku kekuasaan. Kekhawatiran ini tampaknya menimbulkan rasa iri mereka. Untuk menghadapi makhluk itu, Zeus memiliki cara licik untuk mengurangi kekuatan makhluk itu dengan cara tidak membunuhnya. Zeus membelah makhluk itu menjadi dua bagian dan meminta Apollo untuk menyembuhkan luka belahan tersebut. Saat itulah, kedua bagian tubuh itu berpisah satu sama lain dan memiliki kerinduan yang kuat untuk bersatu kembali. Kerinduan itu termanifestasi dalam hasrat laki-laki dan perempuan yang ingin bersatu dalam ikatan percintaan. Inilah kisah jalinan cinta yang dikisahkan dalam risalah yang ditulis oleh Plato dalam Symposium yang kemudian menjadi teori cinta yang mempengaruhi pendekar psikonalisis, Sigmund Freud, dalam memandang cinta.


Pertanyaan tentang cinta tidak hanya berada dalam roman-roman asmara atau lagu-lagu sahdu tentang cinta. Bahasan mengenai cinta juga merupakan bidang yang tidak terlepaskan dari tangan filosof. Seperti yang dikisahkan Plato, laki-laki dan perempuan hingga saat ini pun memiliki kerinduan yang mendalam untuk saling bersatu. Ada kekuatan besar yang saling menarik mereka untuk mencari satu sama lain. Namun, kerinduan untuk bersatu tidak selamanya berjalan dengan lancar. Ada laki-laki dan perempuan yang bersatu hingga pada altar suci pernikahan hanya karena saling pandang di mal ketika sedang makan siang. Ada pula laki-laki dan perempuan hingga bertahun-tahun mengalami rasa sakit karena gagal menyatukan dirinya untuk kembali seperti semula (wujud terdahulu mereka).


Dalam tulisan singkat ini, kita akan mengkaji cinta dari sudut pandang folosof Yunani Klasik, yakni Plato dan sedikit mengupas mengenai derita cinta tak berbalas.


Teori Cinta Plato: Philia dan Eros


Kata cinta dalam bahasa Indonesia tampaknya tidak ada batasan dalam penggunaan. Cinta digunakan untuk menunjuk hubungan yang luas, baik cinta keluarga, cinta sahabat, cinta alam, dan cinta lawan jenis, begitu juga dengan kata love dalam bahasa Inggris. Hal itu jelas berbeda dalam masa Yunani Klasik. Plato memiliki istilah yang berbeda untuk membedakan penggunakan istilah cinta. Istilah yang digunakan Plato pada dasarnya bertujuan untuk membedakan jenis cinta, yakni philia dan eros.


Philia merupakan jenis cinta yang menunjukkan hubungan kasih sayang yang bersifat kekeluargaan, cinta antara anak dengan orang tua dan cinta terhadap sahabat. Cinta ini tidak memiliki hasrat “seksual”. Hubungan ini melibatkan perasaan kasih sayang yang mendalam, tetapi tidak bernuansa luapan libido. Cinta ini memiliki komponen untuk saling melindungi antarsesama, saling memberi, saling memiliki, dan mengasihi. Tidak ada yang membedakan jenis kelamin, suku bangsa, agama, ataupun kasta dalam struktur cinta ini.


Eros merupakan cinta yang digunakan untuk menjelaskan cinta seksual, yakni cinta antara laki-laki dan perempuan ataupun sesama jenis. Ada hasrat “seksual” yang tersimpan dalam komponen eros. Cinta seperti ini memiliki potensi sangat kuat untuk saling memiliki dengan muatan libido. Hasrat berpacaran merupakan salah satu contoh cinta eros. Ketika laki-laki menginginkan salah seorang perempuan untuk dimilikinya dan bermaksud untuk menikahinya, begitu juga sebaliknya, kondisi seperti inilah yang dimaksud dengan cinta eros. Bagaimana dengan incest? Incest atau perilaku seksual yang menyimpang yang masih ada hubungan darah dan memiliki hasrat untuk menjalin asmara, termasuk dalam kategori eros walaupun dalam incest terdapat hubungan kekeluargaan. Jadi, eros merupakan hasrat kasih sayang baik laki-laki perempuan, maupun sesama jenis yang menjurus pada spirit hubungan seksual. Kunci utama cinta eros adalah adanya hasrat seksual.


Philia dan eros merupakan pemetaan sederhana untuk mendekati garis besar pemikiran Plato mengenai cinta. Akan tetapi, kedua cinta ini tidak jarang mengundang masalah bagi hubungan harmonis manusia. Permasalahan itu dapat kita lihat dalam fenomena derita cinta tak berbalas berikut ini.

Fenomena Cinta Tak Berbalas


Berbicara tentang cinta memang gampang, namun memaknainya luar biasa peliknya. Hal itu disebabkan pengalaman cinta antara orang satu dengan lainnya berbeda sehingga pengalaman tersebut kadang tidak dapat diterapkan oleh orang satu kepada yang lainnya pula. Generalisasi cenderung tidak berlaku dalam hal ini. Stephanie Iriana dalam Derita Cinta Tak Terbalas berusaha memformulasikan penderitaan manusia akibat cintanya yang tak berbalas. Dalam buku tersebut, ia menegaskan dalam kondisi manusia yang menderita akibat cinta tak berbalas terdapat titik balik dari kehidupan yang tak bermakna menjadi lebih bermakna. Ketika seseorang menderita karena cintanya tak berbalas, ada peluang membuka diri untuk lebih memaknai kehidupan.


Buku itu juga membahas mengenai hasil wawancara dengan seseorang yang jatuh cinta tetapi tidak berbalas. Namun, buku tersebut tampaknya menitikberatkan bahasan pada bagaimana menemukan makna hidup dalam derita cinta. Ada sedikit yang terlewatkan mengenai pengkajian lebih mendalam “mengapa hal itu terjadi”. Hal yang terlewatkan inilah yang kadang justru menjadikan hakikat cinta semakin unik.


Derita cinta tak berbalas sering terjadi ketika lelaki atau perempuan jatuh cinta ternyata orang yang dicintai tidak mencintainya karena tidak sesuai dengan kriteria atau sudah punya kekasih. Namun, tidak jarang pula masalah cinta mengenai laki-laki mencintai perempuan yang sudah lama bersama, ke mana-mana selalu berdua pada akhirya mengalami derita cinta. Hubungan keduanya semula sangat harmonis layaknya Adam dan Hawa. Keduanya tidak ingin terpisahkan. Karena begitu harmonis dan mesranya hubungan tersebut, si laki-laki jatuh cinta walaupun ia tahu bahwa si perempuan sudah memiliki kekasih. Laki-laki itu sangat yakin bahwa si perempuan pasti juga mencintainya karena keberadaannya sangat berarti bagi perempuan itu. Ketika si laki-laki menyatakan cinta kepada perempuan, jawaban yang didapat justru sebaliknya. Perempuan tersebut tidak dapat menerima cintanya karena mencintai laki-laki lain. Namun, perempuan itu menginginkan si laki-laki tetap berada di sisinya. Setiap saat perempuan itu selalu menghubungi laki-laki itu. Ia tidak ingin berpisah dengannya. Bagi si laki-laki, penolakan cintanya merupakan pukulan berat dan menyakitkan.


Karena si perempuan tetap ingin bersama, laki-laki itu merasa bahwa ia dipermainkan. Ia semakin sakit ketika cinta sudah ditolak namun perempuan itu tetap mengejar-ngejar dan selalu menghubunginya. Dengan tegas, perempuan itu menyatakan bahwa ia tidak dapat berpisah dengan si laki-laki, tetapi ia tidak dapat menerima cintanya dan ia tetap mencintai kekasihnya. Inilah yang tidak dapat diterima oleh laki-laki itu hingga ia mengalami derita cinta yang paling dalam.


Fenomena seperti ini merupakan fenomena cinta yang unik dan sering terjadi. Akan tetapi, permasalahan seperti ini sering kali ditanggapi dalam perspektif sepihak. Oleh sebab itu, yang terjadi justru menempatkan pihak satu pada posisi benar dan pihak lain bersalah. Yang seharusnya terjadi justru tenggelam dalam keegoisan, yakni memahami dengan bijaksana penempatan cinta dari kedua belah pihak.


Apa Ini Eros atau Philia Semata?


Eros dan philia tidak jarang memunculkan permasalahan. Manusia pada dasarnya memiliki keduanya. Hal itulah yang sebenarnya cikal-bakal munculnya permasalahan. Fenomena derita cinta di atas disebabkan karena tumpang-tindih menangkap cinta eros dan philia. Cinta yang dinyatakan si laki-laki kepada perempuan merupakan cinta eros, sedangkan kasih-sayang perempuan kepada laki-laki itu merupakan cinta philia. Secara tidak langsung, munculnya eros tersebut disebabkan karena philia perempuan itu begitu kuat. Ketika philia begitu kuat, persahabatan tidak ingin dipisahkan. Ia merasa yang dicintai merupakan bagian dari dirinya pula dan ia pun merasa ingin dilindungi. Akan tetapi, spirit yang ditangkap laki-laki berbeda. Ia menganggap perasaan itu merupakan eros dari perempuan untuknya.


Jadi, cinta yang dihadapi laki-laki dan perempuan tersebut berbeda. Kurang pekanya menangkap spirit eros dan philia inilah penyebab derita cinta tak berbalas yang cukup unik. Keduanya punya hasrat untuk memiliki. Yang satu hasrat-memiliki yang bermuatan seksual, sedangkan yang satunya tidak bermuatan seksual. Dalam fenomena ini, perempuan memiliki cinta yang ganda. Cinta philia perempuan ditujukan kepada si laki-laki yang menderita, sedangkan cinta eros tetap diberikan kepada sang kekasih semata.


Permasalahan kurang pekanya memahami spirit eros dan philia sering terjadi. Bila salah satunya tidak mampu memahami dengan bijaksana, yang ada hanya kebencian hingga menimbulkan retaknya persahabatan. Kunci permasalahan cinta ada pada kebijaksanaan. Ketika manusia menangkap sebuah fenomena dengan bijaksana, pada dasarnya ia telah membuka diri terhadap cinta.


Untuk saat ini, permasalahan terletak bukan sekadar berhenti bagaimana kita mengartikan apa itu cinta. Bila yang dipermasalahkan sekadar apa itu cinta, yang muncul adalah cinta itu buta, cinta itu menyakitkan, cinta itu menyenangkan, cinta menjenuhkan yang semuanya merupakan lapisan luar belaka. Namun, pertanyaan lebih lanjut dan mendalam sebenarnya justru terlewatkan, yakni bagaimana kita memaknai kehidupan ini dengan cinta dan memahami dengan bijaksana penempatannya. “Bila ego diperkuat dengan cinta/Tenaganya menguasai dunia semesta/Langit menguasai angkasa dengan bintang-bintang/Tangannya menjadi tangan Tuhan/Bulan pecah oleh jari-jemarinya/Dialah pelerai dalam semua sengketa dunia”, tegas Mohammad Iqbal.

A. Basyir semoga tetap bijak


Baca Selanjutnya

FAKTA DAN REKAYASA SEJARAH: KAJIAN BUDAYA KRITIS

FAKTA DAN REKAYASA SEJARAH: KAJIAN BUDAYA KRITIS


Oleh: Heru Susanto


Arthur Marwick, sejarawan, mengatakan “seperti apakah kiranya hidup sehari-hari dalam masyarakat jika tidak ada seorang pun yang tahu tentang sejarah? Imajinasi macet, sebab hanya melalui pengetahuan tentang sejarah-dirinyalah suatu masyarakat dapat memiliki pengetahuan tentang dirinya sendiri. Manusia tanpa memori dan pengetahuan-diri adalah manusia yang mengambang, demikian pula suatu masyarakat tanpa memori (atau lebih tepatnya, tanpa kemampuan mengingat) dan pengetahuan-diri akan menjadi masyarakat yang mengambang.” Sejarah bagi perkembangan masyarakat sangat penting. Melalui sejarah, masyarakat mampu mengetahui seluk-beluk perjalanan panjang yang menyebabkan sekelompok masyarakat menjadi berkembang.


Sejarah mampu menjadikan sekelompok masyarakat mengetahui jati diri yang sesungguhnya, tentang nenek moyang, kasta, agama, dan kebudayaan yang selama ini dianutnya. Tidak ada yang dapat memungkiri, sejarah merupakan tolok ukur eksistensi manusia. Tanpa sejarah, kehidupan tidak akan berkembang.


Melalui masa lalu, manusia akan lebih dapat memahami keberadaannya. Gadamer menegaskan masa lalu sebagai arus bagi manusia untuk bergerak dan berpartisipasi dalam setiap tindakan pemahaman. Pemahaman tersebut dapat diartikan pemahaman dalam arti luas, seperi pemahaman sebagai makhluk berbudaya yang memiliki cara berpikir dalam menangkap segala peristiwa.


Bila manusia kehilangan sejarahnya, manusia tidak memiliki pemahaman mengenai dirinya. Oleh sebab itu, Marwick mengatakan kelompok masyarakat tersebut akan mengambang tanpa memiliki pengetahuan-diri. Secara tegas, Marxim Gorki menegaskan “the people must know their history”. Mengapa kita berbicara tentang sejarah? Jawabannya ialah karena sejarah menentukan pemahaman mengenai keberadaan dan perkembangan kita. Bagaimana dengan keberadaan sejarah kita (Indonesia)?


Antara Fakta dan Rekayasa


Keberadaan sejarah saat ini tampaknya memberikan pandangan kepada masyarakat yang dapat dikatakan membingungkan. Berbagai pandangan sejarah bermunculan dengan berbagai versi kontroversi. Kondisi seperti ini signifikan sejak lengsernya kekuasaan Orde Baru dan digantikan dengan masa yang disebut sebagai Zaman Reformasi. Saat ini, sejarah yang selama ini diakui kebenarannya sedikit demi sedikit mulai dijungkirbalikkan. Kepincangan kebijakan-kebijakan politik yang berpengaruh dalam sejarah pada masa lalu sering diekspos di berbagai media. Kenyataan tersebut secara tidak langsung menyugesti paradigma masyarakat yang menimbulkan pandangan skeptis (ragu) terhadap kebenaran yang selama ini dijadikan sebagai doktrin. Oleh sebab itu, antara fakta dan rekayasa sejarah menjadi bahan perdebatan yang sampai saat ini masih membutuhkan jawaban kebenaran.


Rekronstruksi sejarah saat ini lebih menekankan tentang kebenaran peristiwa-peristiwa masa lalu yang dipengaruhi pemegang kekuasaan. Salah satu peristiwa tersebut ialah peristiwa berdarah yang selama ini dikenal sebagai peristiwa G 30 S/PKI. Konstruksi sejarah saat ini mempertanyakan kembali kebenaran mengenai terlibatnya PKI sebagai dalang kerusuhan tersebut. Dalam pandangan sejarah saat ini, kerusuhan tersebut masih perlu adanya pengkajian lebih lanjut mengenai keterlibatan PKI sebagai satu-satunya sentral peristiwa kerusuhan. Dengan paradigma berpikir tersebut, pandangan sejarah saat ini cenderung tidak mencantumkan inisial PKI dalam peristiwa Gerakan 30 September.


Pandangan sejarah tersebut akhirnya berdampak pada ranah pendidikan. Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo, menginginkan penarikan buku-buku sejarah SMP dan SMA yang diduga menimbulkan pemutarbalikan fakta (Kompas, 20 Mei 2007). Penarikan buku-buku sejarah tersebut disebabkan tidak mencantumkan identitas PKI dan hal itu dinyatakan tidak mencatat fakta kebenaran sejarah.


Kedua pandangan tersebut menimbulkan kebingungan pada masyarakat, khususnya pada ranah pendidikan. Seiring kebijakan penarikan buku sejarah SMP dan SMA, munculnya buku-buku umum yang membahas sisi gelap sejarah oleh berbagai penerbit juga berjalan dengan genjar. Salah satunya ialah Siapa Sebenarnya Soeharto: Fakta dan Kesaksian Para Pelaku Sejarah G-30-S/PKI karya Eros Djarot dkk. Munculnya berbagai buku tentang sejarah yang bersifat kontroversial memberikan pandangan baru terhadap masyarakat dalam memandang sejarah. Kenyataan seperti ini sangat berpengaruh terhadap ranah pendidikan yang berpredikat sebagai pencetak dunia intelektual dengan sikap kritis. Di satu sisi, mereka harus mengejar kebenaran mengenai fakta yang tertunda, di sisi lain mereka harus mengikuti sistem yang berlaku. Pertanyaan yang muncul ialah sejarah mana yang harus diakui kebenarannya?


Membahas mengenai sejarah kontroversial tersebut harus menggunakan pandangan yang kritis serta bijaksana. Penarikan buku sejarah SMP dan SMA memiliki gambaran yang bersifat antisipasi mengenai pembenaran pandangan ajaran komunisme. Pandangan seperti ini dapat dibenarkan karena ajaran penolakan adanya tuhan tidak sesuai dengan fitrah manusia yang membutuhkan suatu kekuatan transenden. Sebagai negara yang beragama, ajaran komunis jelas ditentang keras oleh berbagai agama.


Akan tetapi, kebenaran sejarah harus tetap dipertanggungjawabkan. Pandangan sejarah saat ini yang tampaknya mempertanyakan kembali kebenaran sejarah silam merupakan pandangan kritis yang berusaha menghadirkan kebenaran yang tertunda. Dalam paradigma postrukturalisme, kenyataan dalam sejarah adalah kenyataan yang dibangun, kenyataan yang memperoleh kekuatan melalui wacana. Wacana tidak pernah terlepas dari ideologi, khususnya ideologi kelompok dominan. Oleh sebab itu, tidak tertutup kemungkinan kebenaran sejarah dikonstruksi oleh kekuasaan dominan.


Bila pandangan sejarah ditarik pada kebenaran tunggal, hal itu sama dengan menolak kebenaran yang tertunda atau kebenaran yang dimunculkan dalam paradigma kritis. Sejarah bukanlah suatu objek yang dapat dipindahkan ke media yang lain tanpa dipengaruhi pemikiran. Rekonstruksi sejarah membutuhkan memori manusia yang di dalamnya telah bercampur dengan pandangan-pandangan tertentu. Sebagai analogi, sebuah kamera untuk membidik sebuah objek dipengaruhi pemegang kamera. Objek akan tampak berbeda bila dibidik dari sisi yang berbeda, belum lagi kemampuan photoshop pemegang kamera sudah canggih untuk mempercantik hasil bidikannya.


Mempertanyakan kembali kebenaran sejarah tidak sekadar menjadi permasalahan dalam disiplin ilmu sejarah. Hal yang sama juga menjadi objek kajian dalam sastra. Sastra juga mengalami kegelisahan mengenai konstruksi sejarah yang telah ada. Seno Gumira Ajidarma dalam Kalatidha menggambarkan seorang tokoh yang kehilangan orang-orang terdekatnya. Orang-orang tersebut hilang karena diduga terlibat dalam gerakan komunisme. Peristiwa-peristiwa kerusuhan pun dideskripsikan berdasarkan pembantaian tanpa peradilan. Tampaknya Kalatidha ingin mempertanyakan kembali mengenai kebenaran orang-orang yang hilang yang diduga sebagai komunis.


Hutcheon menyatakan konsep sastra dan sejarah sebagai cabang ilmu yang masing-masing menginterpretasikan pengalaman sudah dikenal pada abad ke-19. Konsep seperti ini dapat digunakan sebagai landasan pandangan kritis mengenai relativitas kebenaran.


Pandangan Pencerahan

Kebenaran sejarah merupakan kebenaran yang dibangun berdasarkan pengalaman. Jika muncul sebuah perbedaan dalam menangkap kebenaran, hal itu merupakan suatu konsekuensi logis. Akan tetapi, bila kebenaran tersebut digiring ke arah kebenaran tunggal, hal tersebut justru dapat dikatakan sebagai penolakan berpikir secara kritis.


Kebijakan penarikan buku sejarah yang tidak mencantumkam nama PKI juga perlu ditanggapi secara positif dan kritis. Antisipasi adanya muatan politis di balik penghapusan identitas tersebut merupakan pandangan logis. Adakah nuansa komunis akan berkembang? Bila hal itu benar, pemikiran tajam berdasarkan ketuhanan harus dipegang. Tegak dan lawan dengan berpegang pada kebenaran merupakan fitrah manusia yang berketuhanan.


Menyikapi dua pandangan mengenai sejarah yang berbeda tidak berlebihan bila tulisan ini ditutup dengan pernyataan Bachofen. Bachofen menyatakan “bukan paradoks, melainkan realitas…..bahwa kebudayaan manusia hanya berkembang setelah melalui pertentangan dan perselisihan”.











Baca Selanjutnya

Jumat, 04 April 2008

MEMBONGKAR LELAKI BUAYA DARAT KARYA RATU: KAJIAN DEKONSTRUKSI

MEMBONGKAR LELAKI BUAYA DARAT KARYA RATU: KAJIAN DEKONSTRUKSI*


Oleh: Heru Susanto



Abstract


The lyric of ”Lelaki Buaya Darat” sung by a duo, Ratu that attempts to construct the binary opposition of woman as an object (victim) and man as asubject (doer) actually reveals an instability. This is due to the ambiguity of the marginalized text. Thie marginalized text is put forward by means of deconstruction, to reconstruct the seemingly stable interpretation of the song. The commonly accepted interpretation places woman as the object and man as the subject. This is reconstructed, thus putting woman as a subject instead.


Pendahuluan


Nietzsche, pujangga besar Jerman, berkata, “Whithout music, life would be an error.” Kenyataan tersebut memang benar bahwa musik merupakan alternatif untuk menenangkan jiwa manusia. Keharmonisan antara nada dan liriknya menjadikan musik mempunyai kekuatan untuk menyugesti penikmat ke wilayah yang damai dan membangkitkan memori kehidupan. Oleh sebab itu, musik sampai sekarang dibutuhkan manusia.

Perkembangan musik, khususnya di Indonesia sangat pesat. Banyak lagu populer yang memberikan nuansa lirik yang menyuarakan kisah cinta yang berbeda dari pemusik-pemusik kawakan (pencipta lagu), seperti Koes Plus, Ebiet, dan yang lainnya. Bila dilihat dari lirik lagu, pemusik saat ini lebih ”berani”. Perkembangan tersebut dipengaruhi kultur masyarakat yang dinamis yang sangat berpengaruh dalam penciptaan lagu.

Salah satu keberanian yang tampak untuk saat ini dapat ditemukan pada lirik lagu yang diciptakan oleh pemusik Ratu. Lirik-lirik Ratu secara implisit menyuarakan keberanian wanita mengangkat perspektif masyarakat mengenai gender bahwa wanita merupakan makhluk yang lemah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Erriam (Ratna, 2005:132) bahwa musik harus memiliki paling sedikit sepuluh fungsi sosial, antara lain a) fungsi pengungkapan emosional, b) fungsi pengungkapan rasa estetika, c) fungsi hiburan, d) fungsi komunikasi, e) fungsi pengungkapan simbolik, f) fungsi reaksi jasmani, g) fungsi penyelenggaraan norma-norma sosial, h) fungsi pengesahan lembaga sosial, i) fungsi kesinambungan kebudayaan, dan j) fungsi pengintegrasian sosial. Bila dilihat dari sepuluh fungsi tersebut, musik sangat berpengaruh dalam kehidupan sosial.

Fungsi sosial juga terdapat dalam lirik lagu karya Ratu, mengenai oposisi biner antara wanita dengan lelaki. Salah satu lirik lagu Ratu yang saat ini sedang populer dan mempunyai pengaruh sosial yang kuat yaitu Lelaki Buaya Darat (selanjutnya disingkat LBD)

LBD mengisahkan seorang wanita yang merasa dirinya dikhianati lelaki. Dari lirik lagu tersebut, tampaknya Ratu mencoba membangkitkan mitos warisan nenek moyang mengenai ”gelar” yang sampai sekarang menjadi beban bagi kaum lelaki sebagai ”hidung belang”. Sadar atau tidak, dalam lirik tersebut, Ratu ingin memunculkan ikon jeritan kaum wanita yang merasa disakiti (penderita) dan merupakan representasi perlawanan terhadap lelaki sebagai tokoh penindas (pelaku). Oposisi biner wanita sebagai objek (penderita) dan laki-laki sebagai subjek (pelaku) merupakan gambaran yang ingin diungkapkan oleh Ratu dalam LBD sebagai realita sosial. Namun, benarkah dalam lirik tersebut wanita semata-mata kaum tersakiti (penderita)? Atau benarkah lelaki sebagai pelaku penindasan yang layak menyandang ”gelar” ”buaya darat”?

Kenyataan penafsiran masyarakat terhadap LBD yang menjadikan wanita sebagai penderita dan lelaki sebagai pelaku penindasan memang tidak dapat dipungkiri. Akan tetapi, kali ini penulis mencoba merekonstruksi interpretasi pada lirik lagu tersebut dengan teori dekonstruksi yang digagas Jacques Derrida.


Dekonstruksi: Differance, Teks, dan Lirik Lagu


Dekonstruksi menurut Derrida (Al-Fayyadl, 2005:176) merupakan strategi pembacaan teks secara filosofis yang menunjuk pada proses yang tak terselesaikan dan bersifat dinamis. Dekonstruksi tidak melihat kebenaran dalam penafsiran sebagai salah satu kebenaran. Kebenaran menurut dekonstruksi ada banyak. Hal itu disebabkan dalam teks terdapat perbedaan (yang dinamakan Derrida sebagai differance) yang tak selamanya ditaklukkan.

Pemikiran filsafat Derrida yang direpresentasikan melalui dekonstruksi cenderung pada bahasa. Sim (2002:26) menggambarkan asumsi-asumsi dasar dekonstruksi yang berhubungan dengan permainan bahasa yang berwujud sebagai teks. Asumsi-asumsi tersebut antara lain:
bahwa bahasa senantiasa ditandai oleh ketidakstabilan dan ketidaktetapan makna,
bahwa mengingat ketidakstabilan dan ketidaktetapan itu, tak ada metode analisis (misalnya filsafat atau kritik) yang memiliki klaim istimewa apa pun atas otoritas dalam kaitannya dengan tafsir tekstual,
bahwa dengan demikian, tafsir adalah kegiatan yang tak terbatas dan lebih mirip dengan permainan daripada analisis seperti yang lazimnya dipahami.


Untuk mendeskripsikan dekonstruksi, Derrida (Al-Fayyadl, 2005:174:176) meringkasnya dalam tiga prinsip, yakni sans savoir, sans voir, dan sans avoir (tidak mengetahui, tidak melihat, dan tidak memiliki). Sans savoir (tidak mengetahui) yaitu menggambarkan bahwa teks tidak selalu dapat ditangkap kebenarannya oleh penafsir secara total. Penafsir dalam menginterpretasikan sebuah teks harus mengakui bahwa teks terdapat perbedaan (defferance). Sans voir (tidak melihat) menggambarkan keterbatasan indra dan penglihatan kita terhadap kebenaran. Ada sikap yang ingin menghargai sebuah perbedaan atau respek akan adanya defferance. Prinsip yang terakhir yaitu sans avoir (tidak memiliki). Sans avoir menyatakan bahwa kebenaran tidak menetap pada satu penafsir, melainkan bergerak menyebar ke penafsir-penafsir yang berbeda.

Munculnya dekonstruksi mengundang kontroversi dari berbagai kalangan. Hal itu disebabkan ketidaktepatan dalam memberikan pengertian terhadap istilah dekonstruksi. Penghancuran, pembongkaran, dan penolakan merupakan pemberian pengertian yang secara leksikal, sehingga menimbulkan ketidaktepatan dalam mengartikan dekonstruksi. Dekonstruksi tidak hanya sekadar membongkar, tetapi merekonstruksi penafsiran yang telah diakui kebenarannya secara absolut. Kebenaran dalam penafsiran tidak harus diakui begitu saja tanpa ada penafsiran lebih lanjut. Penafsiran membutuhkan ketelitian dan tidak mengesampingkan teks sebagai sesuatu yang dianggap sepele. Dalam hal ini, penafsiran yang sudah dianggap stabil mampu dijungkirbalikkan. Namun, dalam hal ini, penafsiran tetap pada makna yang mampu dipertanggungjawabkan. Kristeva (Ratna, 2005:252) menyatakan bahwa dekonstruksi merupakan gabungan antara hakikat destruktif dan konstruktif.

Menurut Sim (2002:27), dekonstruksi dianggap sebagai bentuk skeptimisme filosofis yang benar-benar menyeluruh, yang mempertanyakan asumsi-asumsi yang tak pernah dipersoalkan, dan selanjutnya menunukkan kesenjangan-kesenjangan yang menyebabkan keputusan-keputusan nilai yang lebih dari sekadar terdakwa. Hal tersebut menyatakan bahwa dekonstruksi pada dasarnya tidak menganggap klaim-klaim sebagai sebuah kebenaran. Dekonstruksi justru meragukan kebenaran yang telah diakui keberadaannya. Dekonstruksi memberikan penafsiran ulang, menata kembali teks yang diakui kebenarannya dan menunjukkan segala sesuatu yang tidak beres dalam sebuah teks.

Lirik lagu pada dasarnya merupakan teks. Teks yang dilantunkan berdasarkan irama, sehingga menjelma sebagai teks yang mempunyai keluwesan nada yang dilisankan. Karena sebagai teks, dekonstruksi merupakan pendekatan yang sesuai untuk menafsirkan kembali (reinterpretrasi) penafsiran LBD yang dianggap telah stabil oleh masyarakat sebagai lirik yang memosisikan wanita sebagai penderita dan lelaki sebagai pelaku yang menyebabkan kekecewaan kaum wanita. Benarkah hal itu?

Sesuai dengan pendapat Derrida (Norris, 2003:109) dekonstruksi ”menggerogoti dari dalam” atau menelanjangi teks-teks dengan meminjam konsep teks itu sendiri. Penafsiran LBD juga akan meminjam teks yang ada dalam lirik itu sendiri untuk menelanjangi atau membongkar makna yang implisit dan makna yang dimarginalkan.

Untuk menghadirkan keambiguaitasan teks yang dimarginalkan, perlu memunculkan differance. Differance menurut Derrida berarti ”perbedaan”. Yang dimaksud perbedaan tidak sekadar menunjukkan ketidaksamaan antara dua hal. Namun, differance menunjukkan ”penundaan” suatu yang lain. Secara filosofis istilah differ(a)nce memiliki dua makna, yaitu ”membedakan/menjadi berbeda” (to differ) dan ”menunda” (to defer). Pengertian ganda yang dipicu huruf a dalam differ(a)nce menurut Derrida (Al-Fayyadl, 2005:110) merupakan strategi tekstual untuk menunjukkan watak ambiguitas bahasa. Dengan kata lain, differance membuka teks terhadap ”suara” lain, kepada the other yang dimarginalkan oleh pusat teks yang stabil.


Wanita sebagai Objek dan Subjek


Perspektif yang sampai sekarang masih mendominasi paradigma masyarakat bahwa wanita merupakan makhluk yang selamanya tertindas, secara tidak langsung terdapat dalam LBD. Dalam LBD, Ratu ingin menggambarkan rasa sakit yang dialami wanita yang disebabkan oleh kaum lelaki. Kekecewaan-kekecewaan wanita mewarnai lirik LBD. Kekecewaan tersebut dimunculkan Ratu untuk memperkuat bahwa wanita merupakan makhluk yang lemah yang sering ditindas oleh kaum lelaki. Ratu berusaha memunculkan oposisi biner antara wanita sebagai penderita dan lelaki sebagai pelaku.

Akan tetapi, penggambaran wanita dalam LBD tampaknya tidak sekadar menempatkan wanita sebagai objek (penderita) semata. Wanita yang oleh perspektif masyarakat diyakini hanya sebagai objek semata, dalam lirik LBD ternyata juga menempati posisi sebagai subjek (pelaku). Dari sinilah, pembacaan dekonstruksi perlu diterapkan. Yang menggambarkan wanita sebagai subjek terletak pada lirik sebagai berikut.


Lihatlah pada diriku

Aku cantik dan menarik

Dan kau mulai dekati aku


Dari lirik awal LBD, wanita merupakan pelaku. Dengan menggunakan tubuh yang dinyatakan melalui kecantikan dan daya tarik, wanita memanfaatkannya sebagai stimulus (rangsangan) untuk menarik lelaki. Doktrin mengenai wanita adalah objek (penderita) dan lelaki adalah subjek (pelaku) yang seakan-akan dipostulatkan, dalam hal ini dijungkirbalikkan. Lirik tersebut telah menyatakan bahwa justru wanitalah yang menjadi pelaku (subjek) dan lelaki menjadi penderita (objek). Dalam hal ini, Prabasmoro (2006:181) menegaskan posisi objek dapat memberikan ruang bagi wanita untuk menjadi subjek dan menjadikan subjek yang dibangun dalam pengobjektivikasian kaum patriarki. Dari lirik tersebut, tampaknya Ratu selain ingin menggambarkan kelemahan wanita juga ingin menunjukkan superioritas wanita pada lihatlah pada diriku...

Namun, pembacaan teks tidak terputus pada bait lirik tersebut. Menurut Beauvoir (Prabasmoro, 2006:181) dan hal ini merupakan kekhawatirannya, wanita dapat terkecoh dalam keadaan seolah-olah ia memainkan peran objek sebagai subjek, ketika yang sebenarnya terjadi adalah perempuan tergoda untuk menjadi objek dan melepaskan subjektivitasnya, karena subjektivitas membawa konsekuensi tanggung jawab. Bila teks lirik LBD dibaca kembali, kekhawatiran Beauvoir benar-benar terjadi. Wanita (dalam LBD) tidak mampu mempertahankan subjektivitasnya. Hal ini disebabkan tidak adanya strategi pertahanan subjektivitas, sehingga subjek tenggelam ke dalam objektivitas. Ketidakmampuan mempertahankan subjektivitas terjadi ketika wanita memberikan segalanya kepada lelaki.


Kuberi segalanya

Cinta harta dan jiwaku

Tapi kau malah menghilang bagai hantu

Tak tahu malu


Posisi wanita yang semula menjadi subjek kemudian tenggelam ke dalam objek inilah yang melatarbelakangi kebencian terhadap lelaki. Dari lirik tersebut, Ratu mulai menggambarkan sosok lelaki yang tidak bertanggung jawab, sehingga lirik LBD mampu memberikan sugesti untuk memperkuat bahwa lelaki adalah ”buaya darat”. Pembentukan karakteristik lelaki tersebut bertujuan untuk mengkonstruksi makna yang ingin diungkapkan, yaitu menghadirkan oposisi biner wanita sebagai objek (penderita) dan lelaki sebagai subjek (pelaku).

Walau posisi wanita yang semula subjek kemudian tenggelam ke posisi objek, hal tersebut tidak berarti wanita selamanya berperan sebagai objek yang telah mendominasi perspektif masyarakat, melainkan juga berperan sebagai subjek atau pelaku.

Dalam LBD, kebiasaan lelaki sebagai penggoda kaum wanita sekarang tidak diakui. Lirik di atas apabila ditata kembali mengisyaratkan bahwa wanitalah yang menggoda lelaki. Jadi, wanita dalam LBD berperan sebagai subjek (pelaku). Wanita yang dalam pandangan masyarakat diakui sebagai sosok yang selalu menjadi korban lelaki dalam hal ini justru wanitalah yang memberikan stimulus untuk menempatkan lelaki sebagai objeknya.

Keinginan Ratu untuk menghadirkan oposisi biner wanita sebagai objek (penderita) dan lelaki sebagai subjek (pelaku) semata telah gagal. Ratu terjebak dalam ambiguitas teks yang direpresentasikan sebagai lirik lagu yang digagasnya. Wanita yang semula diakui sebagai objek (penderita) ternyata juga berposisi sebagai subjek (pelaku) yang menarik perhatian lelaki.


Pengakuan terhadap the Other: Wanita sebagai ”Buaya” yang lain


Setelah menggambarkan lelaki sebagai pelaku yang menyakiti wanita, Ratu memunculkan beberapa lirik selanjutnya untuk memperkuat ambisinya demi melekatkan sebutan “buaya darat” kepada lelaki. Kebencian wanita terhadap lelaki sangat kuat pada bagian reff LBD.

Penggunaan kata dalam lirik LBD, seperti busyet! Aku tertipu lagi memiliki kekuatan untuk memberikan makna kekecewaan dan kekesalan. Kekecewaan dan kekesalan tersebut menjadi titik-tolak bagi Ratu untuk memunculkan kata-kata makian yang mewakili kebencian wanita terhadap lelaki yang menyakitinya. Pengkonstruksian kata-kata yang mampu memberikan kekuatan makna untuk membangkitkan figur lelaki sebagai penindas wanita sebagai berikut.


Lelaki buaya darat

Busyet! Aku tertipu lagi

Mulutnya manis sekali

Tapi hati bagai serigala


Kekesalan serta kekecewaan diungkapkan berupa metafor yang menjadikan ”serigala” untuk menggambarkan kelicikan dan kebuasan lelaki. Lelaki di sini dinyatakan sebagai seseorang yang pandai merayu serta mengobral janji yang manis, namun tak ada bukti dan akhirnya menghilang begitu saja. ”Kebuasan”, ”keliaran”, dan kelicikan mulai tergambarkan.

Kekecewaan yang dialami wanita juga terdapat pada lirik ”tapi kau malah menghilang bagai hantu tak tahu malu (sakitnya aku)”. Lirik tersebut memiliki potensi yang kuat untuk memunculkan gambaran sosok wanita yang tertindas. Untuk menggambarkan kelicikan lelaki yang menyisakan rasa sakit dan kecewa pada wanita, hal itu perlu ditegaskan bahwa penggunaan metafor berupa kata hantu, serigala, dan busyet ialah kekuatan yang mampu memperkuat gambaran lelaki sebagai pelaku penindasan. Kata-kata tersebut mempunyai aspek makna yang kuat dan merupakan sentral yang mampu memberikan sugesti ke penafsiran yang distabilkan.

Namun, benarkah dalam teks lirik LBD sifat ”hantu”, ”serigala”, dan ”buaya darat” memang hanya untuk kaum lelaki? Untuk membongkar kebenaran dalam teks tersebut, penafsiran perlu menggunakan pembacaan dekonstruksi untuk menghadirkan differance dalam teks.

Bila mendengar lagu LBD, orang pasti beranggapan bahwa yang pantas disalahkan adalah lelaki. Lelakilah yang pantas dibebani atau menyandang ”gelar” ”buaya darat” serta ”keserigalaan”nya. Mereka menganggap bahwa penafsiran mereka terhadap teks LBD merupakan kebenaran yang tunggal dan stabil. Hal itu disebabkan bahwa para penikmat LBD tersugesti untuk memasuki sentral makna yang kuat yang terdapat pada kata hantu, serigala, busyet, serta buaya darat. Penikmat digiring sedemikian rupa ke dalam kekuatan makna yang dibangun, sehingga penafsiran tunggal pun terbentuk. Tanpa memberikan penafsiran lebih jauh, penikmat secara tidak sadar menganggap dan bahkan terlibat dalam penstabilan teks tersebut, sehingga eksistensi kebenaran yang lain (the other) tenggelam.

Bila penafsiran sudah dinyatakan stabil, hal itu justru perlu dipertanyakan. Menurut Derrida, teks menyimpan ambiguitas-ambiguitas yang tidak bisa dielakkan. Seperti ambisi Ratu untuk menggambarkan kesalahan-kesalahan lelaki sehingga dapat memunculkan oposisi biner antara wanita sebagai objek (penderita) dan lelaki sebagai subjek (pelaku), Ratu justru terperangkap dalam ambiguitas-ambiguitas tersebut. Akan tetapi, ambiguitas tersebut seakan dimarginalkan demi menghadirkan ketunggalan dan kestabilan penafsiran, sehingga penafsiran dianggap selesai dan dihentikan. Namun, ambisi tersebut tidak sepenuhnya berhasil. Ketidakstabilan dan keambiguitasan LBD yang dimarginalkan, dalam tulisan ini akan diangkat ke permukaan, sehingga eksistensinya mulai tampak. Hal itu terdapat pada lirik berikut.


Untungnya aku masih punya kekasih yang lainnya

Tapi mengapa aku masih saja tertipu olehnya


Penggalan lirik LBD tersebut merupakan salah satu ketidakstabilan dan keambiguitasan yang keberadaannya dimargnalkan. Bila diperhatikan secara sekilas, lirik tersebut seakan-akan lenyap ketika dinyanyikan. Lenyapnya lirik tersebut diakibatkan oleh tekanan-tekanan pada lirik yang lainnya, seperti lirik pada bagian reff dan pengaruh-pengaruh kekuatan makna yang terdapat pada kata hantu, serigala, busyet, dan buaya darat. Setiap lagu pasti memberikan tekanan tersendiri pada bagian reff, sehingga teks-teks yang lain cenderung mengalami pergeseran eksistensinya. Hal itu merupakan strategi Ratu untuk memperkuat penciptaan kebencian dan kekecewaan terhadap lelaki serta mengangkat figur wanita yang tertindas dengan memarginalkan terks tersebut. Ambisi tersebut mulai tergoyahkan, setelah teks yang dimarginalkan dibebaskan dari ikatan teks yang distabilkan.

Bila penafsiran ditata kembali secara teliti dan cermat, ada kejanggalan dalam LBD. Untungnya aku masih punya kekasih yang lainnya, memberikan tafsiran bahwa ternyata si wanita selama bersama dengan lelaki yang telah meninggalkannya juga mempunyai kekasih ”gelap”. Hal itu juga dapat ditafsirkan bahwa si wanita juga mendua tanpa sepengetahuan kekasihnya. Pengkhianatan cinta juga dilakukan wanita. Wanita yang tadinya didudukkan sebagai korban pengkhianatan atau korban penelantaran oleh lelaki ternyata juga pelaku. Lirik tersebut sangat bertentangan dengan misi Ratu yang ingin mengangkat ”buaya darat”. Figur wanita yang dibangunnya mulai terombang-ambing dalam ketidakstabilan. Wanita yang sebelumnya tergambar dengan keluguannya yang tertindas, ternyata memiliki sisi yang berpotensi sebagai penindas. Jadi, dalam LBD selain lelaki sebagai pelaku pengkhianatan yang tadinya diakui kebenarannya tanpa dipertanyakan ulang, wanita pun juga menjadi tersangka sebagai pelaku pengkhianatan. Wanita secara sembunyi-sembunyi mempunyai lelaki ”cadangan” yang lain.

Istilah buaya darat merupakan sebutan yang ditujukan kepada lelaki yang sering berganti-ganti pasangan dan selalu mengobral janji kepada semua wanita. Kenyataan tersebut dapat ditemukan pada lirik mulutnya manis sekali / tapi hati bagai serigala. Namun, kita akan merekonstruksi kembali lirik untungnya aku masih punya kekasih yang lainnya / tapi mengapa aku masih saja tertipu olehnya. Pada lirik tapi mengapa aku masih saja tertipu olehnya akan muncul sebuah tafsiran bahwa wanita tersebut juga berpengalaman dalam hal percintaan yang bersifat mendua. Namun, walaupun berpengalaman, wanita tersebut masih saja tertipu. Jadi, lirik tersebut menyuarakan adanya kekecewaan pada diri sendiri yang seharusnya dengan pengalamannya tidak terjadi hal semacam itu.

Gambaran meninggalkan wanita begitu saja yang dilakukan oleh lelaki yang seharusnya bertendensi untuk memperkuat lelaki sebagai ”buaya darat” juga mengalami ketidakstabilan. Wanita yang seharusnya sebagai korban pengkhianatan ternyata juga memiliki pengalaman mendua. Munculnya gambaran wanita yang juga berpengalaman mendua menjadi ”bumerang” bagi ambisi Ratu untuk menyatakan lelaki sebagai ”buaya darat”. Ambisi tersebut akhirnya runtuh dalam teks lagu itu sendiri. ”Buaya darat” dalam LBD tampaknya mengalami kebingungan untuk menentukan ”majikan” yang cocok menyandang maupun melestarikannya. Ia harus ikut si lelaki atau si wanita?

Dari rekonstruksi interpretasi tersebut, yang ”buaya darat” tidak hanya lelaki, tetapi ada ”buaya” lain atau ”buaya” kedua dalam liri lagu LBD yang seakan dimarginalkan. Usaha Ratu untuk membangkitkan kekecewaan dan kekesalan terhadap lelaki dan mengangkat figur wanita yang selalu tertindas pada bagian teks sebelumnya telah gagal, setelah teks yang dimarginalkan dihadirkan.

Ambisi menghadirkan tafsiran tunggal dan stabil merupakan kesalahan terbesar, sebab teks bersifat otonom. Tidak ada yang berhak untuk menyatakan bahwa teks bersifat tunggal dan stabil. Menafsirkan teks tidak berarti menggugurkan kebenaran yang lain. Derrida telah menegaskan bahwa kebenaran itu tidak hanya satu, tetapi kebenaran ada banyak dan kebenaran menyebar dalam teks, sehingga siapa pun dapat mendekatinya dari berbagai sisi.

LBD merupakan saksi bahwa penafsiran tidak pernah stabil dan keambiguitasan teks tidak selamanya dapat dihindari. Ambisi Ratu mengangkat ”buaya darat” telah gagal. Wanita yang ingin disuarakan ternyata terperosok pada ambiguitas dan bahkan telah menjelma sebagai ”buaya” yang kedua. Kegagalan Ratu memunculkan figur wanita yang tersakiti dan lelaki sebagai pelaku penindasan yang layak disebut sebagai ”buaya darat” tampaknya diakibatkan juga oleh ambisi untuk menunjukkan superioritas wanita. Gambaran superioritas wanita yang tersirat dalam LBD memberikan peluang ambiguitas yang tak dapat dielakkan. Ratu terjebak oleh ambisi-ambisinya yang di salah satu sisi ingin mengangkat figur wanita yang tertindas, di sisi lain ia terjebak oleh ambisinya untuk menggambarkan superioritas wanita.


Penutup


Dekonstruksi memberikan kebebasan dalam mendekati sebuah teks. Tidak ada kebenaran tunggal dalam menelanjangi teks. Dekonstruksi mengajak manusia untuk lebih bersikap skeptis (meragu-ragukan) kebenaran yang telah dianggap stabil dan menghargai perbedaan pada the other. Ambiguitas teks perlu dibangkitkan dari upaya pemarginalannya untuk mendapatkan penafsiran yang justru lebih dapat dipertanggungjawabkan. Manusia tidak harus menerima begitu saja segala sesuatu tanpa pernah mempertanyakan kembali.

Heidegger (Palmer, 2003:270) menegaskan pemahaman merupakan sesuatu yang fundamental dari keberadaan manusia di dunia. Melalui pemahaman, manusia memiliki suatu penilaian dari cara kita berada, menangkap makna melalui bahasa.

Setelah mendekonstruksi LBD, penafsiran yang selama ini telah diyakini kebenarannya kini telah dijungkirbalikkan. Tidak hanya lelaki yang ”buaya darat”, wanita pun (dalam LBD) juga ”buaya” (sebut saja ”buaya laut”). Rekonstruksi interpretasi tersebut memunculkan pertanyaan yang mengganggu lebih lanjut. Mungkinkah lelaki (dalam LBD) meninggalkan si wanita justru karena ia mengetahui bahwa si kekasih (wanita) mempunyai teman lelaki spesial lainnya? Bukankah kita masih ingat lagunya Ratu yang berjudul TTM (Teman tapi Mesra)?

Pembongkaran LBD ini bukan semata-mata apologi (pembelaan) terhadap kaum lelaki yang identik dengan ”buaya darat”, tetapi tulisan ini lebih mengarah pada pembelaan teks yang kehilangan otonomnya oleh penafsiran yang dianggap stabil dan bahkan terhadap penafsiran yang dangkal.


*DITERBITKAN DALAN JURNAL BAHASA DAN SENI "JURNAL PRASASTI", Vol. 18, No. 2. Surabaya: FBS, Unesa



Daftar Rujukan


Al-Fayyadl, Muhammad. 205. Derrida. Yogyakarta: LKiS


Norris, Christopher. 2003. Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques Derrida. Terjemahan Inyiak Ridwan Muzir. Yogyakarta: Ar-Ruzz


Palmer, Ricard E. 2003. Hermeniutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi. Terjemahan Mansur Heri dan Damanhuri Muhammad. Yogyakarta: Pustaka Pelajar


Prabasmoro, Aquarini Priyatna. 2006. Kajian Budaya Feminis: Tubuh, Sastra, dan Budaya Pop. Yogyakarta dan Bandung: Jalasutra


Ratna, Nyoman Kutha. 2005. Sastra dan Cultural Studies: Representasi Fiksi dan Fakta. Yogyakarta: Pustaka Pelajar


Sim, Stuart. 2002. Derrida dan Akhir Sejarah. Yogyakarta: Jendela





Lampiran:



LELAKI BUAYA DARAT

Oleh: Ratu


Lihatlah pada diriku

Aku cantik dan menarik

Dan kau mulai dekati aku


Kuberi segalanya

Cinta harta dan jiwaku

Tapi kau malah menghilang

Bagai hantu tak tahu malu


Reff


Lelaki buaya darat

Busyet! Aku tertipu lagi

Mulutnya manis sekali

Tapi hati bagai serigala


Kutertipu lagi o...

Kutertipu lagi o...


Kuberi segalanya

Cinta harta dan jiwaku

Tapi kau malah menghilang

Bagai hantu sakitnya aku


Mungkin aku naif

Mungkin aku bodoh

Atau mungkin kamu memang penjahat wanita


Untungnya aku masih punya kekasih yang lainnya

Tapi mengapa aku masih saja tertipu olehnya
Tags: dekonstruksi Baca Selanjutnya